Segregasi kelas dan ras dalam penyediaan air pada masa kolonial belanda berdampak pada buruknya ketersediaan air. Pola ini terwariskan hingga kini dan berimplikasi pada buruknya ketersediaan, kuantitas, kualitas air di Jakarta.
Penyediaan air mulai dibangun Pemerintah Kolonial Belanda pada dekade 1870 atas kebutuhan dasar peningkatan populasi bangsa Eropa di Batavia. Penyediaan air juga diutamakan untuk menyokong masuknya kapital dan perusahaan privat ke belanda. Pelaksanaannya dilakukan secara diskriminatif antara wilayah urban dengan perkampungan, dan secara realistis antara bangsa Eropa dan Non-eropa, dimana bangsa Eropa mendapatkan keistimewaan, sementara masyarakat pribumi masih menggunakan air permukaan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air harian seperti mandi, cuci, dan kakus.
Pada Tahun 1920 jaringan air terintegrasi dibangun di Batavia yang mengalirkan air dari Bogor 53 km ke lebih dari 90% rumah bangsa Eropa. Sementara itu masyarakat pribumi hanya dapat memanfaatkan air bersih dari pompa publik yang kemudian disajikan dengan gerobak keliling. Sebuah praktik yang masih dapat kita jumpai kini. Bentuk diskriminasi air ini memperkuat perspektif rasisme bangsa Eropa yang menganggap golongannya higienis dan modern, sementara masyarakat pribumi terbelakang dan kotor.
Atas nama modernitas pemerintah Orde Lama melanjutkan penyediaan air yang memberikan prioritas terhadap kawasan urban elite dan melupakan daerah perkampungan. Pemerintahan Soekarno menginginkan modernisasi Jakarta terlebih dengan adanya pembangunan kompleks senayan untuk ASIAN Games pada tahun 1962. Upaya membangun citra modern ibukota ini meliputi berbagai infrastruktur termasuk pengolahan dan penyediaan air. Namun hanya beberapa kawasan urban elite seperti Menteng, Tebet, Kebayoran Baru, dan Pondok Indah yang mendapatkan prioritas air jaringan sebagai facade kemajuan kehidupan Jakarta. Sementara itu wilayah perkampungan terabaikan dan harus mampu memenuhi kebutuhan airnya sendiri.
Pola penyediaan air yang timpang berlanjut sampai saat ini yang menyebabkan rendahnya cakupan air jaringan dan tingginya penggunaan air tanah di Jabodetabek. Paradigma penyediaan air yang mengutamakan mereka yang modern dan melupakan masyarakat pinggiran Jakarta menyebabkan masih tingginya masyarakat yang menyediakan air secara mandiri dengan penggunaan pompa air tanah yang rentan terhadap gangguan. Tingginya penggunaan air tanah yang dibarengi dengan buruknya pengelolaan air limbah telah menimbulkan Seepage ke dalam air tanah yang mengancam kesehatan. Segregasi dan diskriminasi penyediaan air dari masa kolonial mewariskan masalah sistemik buruknya air di Jakarta. Jika kondisi ini terus berlanjut, air tanah di Jakarta akan semakin tidak layak dipakai karena berbahaya. Sementara masyarakat harus bergantung pada air kemasan maupun isi ulang yang mahal dan rentan gangguan logistik. Warisan kolonial menyebabkan rumah tangga rentan air hingga saat ini.
Mata Bumi Vol. 1 Issue 2
Referensi:
Furlong, K. and Kooy, M. (2017), Worlding Water Supply: Thinking Beyond the Network in Jakarta. Int. J. Urban Reg. Res., 41: 888-903. https://doi.org/10.1111/1468-2427.12582
Irawan, D.E., Silaen, H., Sumintadireja, P. et al. Groundwater–surface water interactions of Ciliwung River streams, segment Bogor–Jakarta, Indonesia. Environ Earth Sci 73, 1295–1302 (2015). https://doi.org/10.1007/s12665-014-3482-4
Kooy, M., & Bakker, K. (2015). “(Post)Colonial Pipes: Urban Water Supply in Colonial and Contemporary Jakarta”. In Cars, Conduits, and Kampongs. Leiden, The Netherlands: Brill. https://doi.org/10.1163/9789004280724_004
Kooy, M., Walter, C, T., & Prabaharyaka I. (2018). Inclusive development of urban water services in Jakarta: The role of groundwater, Habitat International, Volume 73, Pages 109-118, ISSN 0197-3975, https://doi.org/10.1016/j.habitatint.2016.10.006
Octavianti, T., & Charles, K. (2018). The evolution of Jakarta’s flood policy over the past 400 years: The lock-in of infrastructural solutions. Environment and Planning C, 37(6), 1102-1125. https://doi.org/10.1177/2399654418813578 (Original work published 2019)
Rivai, F. A. (2025). R studio part of Integrating SVM-IDW Modelling for Assessing Human Health Risks from Groundwater Nitrate in Urban Depok, Indonesia. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.11353296




